Pelatihan Kepemimpinan Psi USU '13
Senin, 14 April 2014
Minggu, 23 Maret 2014
KELOMPOK 5
1. Julia Therisa "
2. Hotma Indra Hakim (13-013)
3. Rifqy Tiara Balqish (13-029)
4. Dewi Sitepu
5. Ester Sihombing (13-109)
1. Julia Therisa "
2. Hotma Indra Hakim (13-013)
3. Rifqy Tiara Balqish (13-029)
4. Dewi Sitepu
5. Ester Sihombing (13-109)
Vygotsky
menyatakan bahwa kemampuan kognitif berasal dari hubungan sosial dan kultur, vygotsky
mengatakan bahwa,perkembangan anak tidak bisa dipisahkan dari kegiatan sosial
dan kuktural ( Holland, dkk.,2001). Beliau percaya, bahwa perkembangan memori,
perhatian, dan nalar, melibatkan pembelajaran untuk menggunakan alat yang ada
dalam masyarakat, seperti, bahasa,berinteraksi, dan lain lain. Teorinya
mengandung pandangan bahwa pengetahuan itu dipengaruhi oleh situasi dan
bersifat kolaboratif. Memperoleh pengetahuan dapat dicapai dengan baik melalui
interaksi dengan orang lain dalam kegiatan bersama.
“Saya dulu anaknya
pendiam, tidak terbuka, dan mudah bergaul juga sih, tapi untuk pembelajaran
saya, saya sangat kurang kala itu. Semua itu terjadi, dari SD sampai dengan
SMP, dan SMA lah, saya mulai terbuka, dan mudah berinteraksi dengan semua
orang. Di masa SMA itu lah, saya mulai belajar, bagaimana saya harus bisa
aktif, dalam belajar atau apa pun, misalnya berorganisasi. Kala itu saya sangat
bersyukur, mempunyai teman-teman yang selalu mendukung saya, baik dalam
pembelajaran maupun hal-hal yang lain, dan hasilnya, saya menjabat sebagai
ketua kelas, selama 3 tahu, dari kelas 1 SMA sampai dengan kelas 3, kelas 2 dan
kelas 3 itu, saya berada di kelas
unggulan, dan untuk kali pertama, saya menjadi ketua kelas, selama 3 tahun. Hal
yang lain, setelah di SMP, akademik saya sangat jelek, di SMA saya, alhamdulillah
berhasil masuk 10 besar rangking kelas, dari kelas 2 SMA , sampai kelas 3. Dan juga
saya berada di urutan ke 19 dari 50 orang, dalam mengikuti olimpiade geografi
dan kimia. Jadi, setelah di SMA lah saya, mulai menjadi anak yang aktif dan
mudah berinterkasi dengan semua, dan menjadikan saya, anak yang selalu berusaha
dan giat.
Konsep
Zona Perkembangan Proksimal (ZPD)
Zona Perkembangan
Proksimal adalah istilah Vygotsky untuk rangkaian tugas yang terlalu sulit
dikuasai anak seorang diri tetapi dapat diipelajari dengan bantuan dan
bimbingan orang dewasa atau anak-anak yang terlatih. Menurut teori Vygotsky, Zona Perkembangan Proksimal
merupakan celah antara actual development dan potensial development,
yang mana seorang anak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa dan
apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang dewasa atau
kerjasama dengan teman sebaya. Batas bawah dari ZPD adalah
tingkat keahlian yang dimiliki anak yang bekerja secara mandiri. Batas atas
adalah tingkat tanggung jawab tambahan yang dapat diterima oleh anak dengan
bantuan seorang instruktur. Maksud
dari ZPD adalah menitikberatkan ZPD pada interaksi sosial akan dapat memudahkan
perkembangan anak.
“Ketika
saya kelas 2 SMA, saya di tunjuk oleh pengurus SMA saya, untuk mengikuti
olimpiade geografi dan kimia (kebumian). Nah , pada saat itu saya bingung,
entar harus mulai dari mana untuk persiapan olimpiade itu. Setelah saya
merenunginya, saya menjumpai senior kelas 3 yang pernah mengikuti olimpiade
itu. Dan saat itu juga, saya diarahkan dan di beri petunjuk tata cara mengikuti
olimpiade itu, dan bagaimana cara mengerjakan dan mengatasinya. Disitu saya
termotivasi untuk lebih semangat mengikuti olimpiade itu, dan kedepannya saya
belajar sendiri, dan memecahkan masalah soal-soal olimpiade sebelumnya.
SCAFFOLDINGS
Teori Vygotsky yang
lain adalah “scaffolding“.
Scaffolding merupakan suatu istilah pada proses yang digunakan orang dewasa
untuk menuntun anak-anak melalui Zone of proximal developmentnya.Scaffolding ialah perubahan tingkat
dukungan,memberikan kepada seseorang anak sejumlah besar bantuan selama tahap-tahap
awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan
kesempatan kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin
besar segera setelah ia mampu mengerjakan sendiri. Bantuan yang diberikan guru
dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan menguraikan masalah ke dalam bentuk
lain yang memungkinkan siswa dapat mandiri.
“Ketika saya berumur 6 tahun , dan
baru menjejaki SD, saya dulunya suka menggambar, entah apa yang saya gambar
saya tidak tahu, tapi tetap saya lakukan, di dinding-dinding rumah, lantai,
dimanapun itu. Dan suatu hari, saya menggambar-gambar di kertas, lalu ibu saya
menghampiri saya, dan mengajarkan saya menggambar dengan baik, saya masih ingat
waktu itu, gambaran ibu saya bagus sekali, kala itu ibu saya menggambar
pemandangan, dan saat itu juga saya diajari olehnya, dan sekalian juga berkata,
kalau saya menggambarnya di buku gambar, tidak dimana-dimana, karena akan
terlihat rapid an bagus, jika di buku gambar. Di situlah saya, pertama kali di
beri oleh ibu, buku gambar, yang sangat besar, saya sengat senang kala itu, dan
kedepannya, saya lebih giat menggambar di buku gambar”
KELOMPOK 5
1. Julia Therisa "
2. Hotma Indra Hakim (13-013)
3. Rifqy Tiara Balqish (13-029)
4. Dewi Sitepu
5. Ester Sihombing (13-109)
1. Julia Therisa "
2. Hotma Indra Hakim (13-013)
3. Rifqy Tiara Balqish (13-029)
4. Dewi Sitepu
5. Ester Sihombing (13-109)
Vygotsky
menyatakan bahwa kemampuan kognitif berasal dari hubungan sosial dan kultur, vygotsky
mengatakan bahwa,perkembangan anak tidak bisa dipisahkan dari kegiatan sosial
dan kuktural ( Holland, dkk.,2001). Beliau percaya, bahwa perkembangan memori,
perhatian, dan nalar, melibatkan pembelajaran untuk menggunakan alat yang ada
dalam masyarakat, seperti, bahasa,berinteraksi, dan lain lain. Teorinya
mengandung pandangan bahwa pengetahuan itu dipengaruhi oleh situasi dan
bersifat kolaboratif. Memperoleh pengetahuan dapat dicapai dengan baik melalui
interaksi dengan orang lain dalam kegiatan bersama.
“Saya dulu anaknya
pendiam, tidak terbuka, dan mudah bergaul juga sih, tapi untuk pembelajaran
saya, saya sangat kurang kala itu. Semua itu terjadi, dari SD sampai dengan
SMP, dan SMA lah, saya mulai terbuka, dan mudah berinteraksi dengan semua
orang. Di masa SMA itu lah, saya mulai belajar, bagaimana saya harus bisa
aktif, dalam belajar atau apa pun, misalnya berorganisasi. Kala itu saya sangat
bersyukur, mempunyai teman-teman yang selalu mendukung saya, baik dalam
pembelajaran maupun hal-hal yang lain, dan hasilnya, saya menjabat sebagai
ketua kelas, selama 3 tahu, dari kelas 1 SMA sampai dengan kelas 3, kelas 2 dan
kelas 3 itu, saya berada di kelas
unggulan, dan untuk kali pertama, saya menjadi ketua kelas, selama 3 tahun. Hal
yang lain, setelah di SMP, akademik saya sangat jelek, di SMA saya, alhamdulillah
berhasil masuk 10 besar rangking kelas, dari kelas 2 SMA , sampai kelas 3. Dan juga
saya berada di urutan ke 19 dari 50 orang, dalam mengikuti olimpiade geografi
dan kimia. Jadi, setelah di SMA lah saya, mulai menjadi anak yang aktif dan
mudah berinterkasi dengan semua, dan menjadikan saya, anak yang selalu berusaha
dan giat.
Konsep
Zona Perkembangan Proksimal (ZPD)
Zona Perkembangan
Proksimal adalah istilah Vygotsky untuk rangkaian tugas yang terlalu sulit
dikuasai anak seorang diri tetapi dapat diipelajari dengan bantuan dan
bimbingan orang dewasa atau anak-anak yang terlatih. Menurut teori Vygotsky, Zona Perkembangan Proksimal
merupakan celah antara actual development dan potensial development,
yang mana seorang anak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa dan
apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang dewasa atau
kerjasama dengan teman sebaya. Batas bawah dari ZPD adalah
tingkat keahlian yang dimiliki anak yang bekerja secara mandiri. Batas atas
adalah tingkat tanggung jawab tambahan yang dapat diterima oleh anak dengan
bantuan seorang instruktur. Maksud
dari ZPD adalah menitikberatkan ZPD pada interaksi sosial akan dapat memudahkan
perkembangan anak.
“Ketika
saya kelas 2 SMA, saya di tunjuk oleh pengurus SMA saya, untuk mengikuti
olimpiade geografi dan kimia (kebumian). Nah , pada saat itu saya bingung,
entar harus mulai dari mana untuk persiapan olimpiade itu. Setelah saya
merenunginya, saya menjumpai senior kelas 3 yang pernah mengikuti olimpiade
itu. Dan saat itu juga, saya diarahkan dan di beri petunjuk tata cara mengikuti
olimpiade itu, dan bagaimana cara mengerjakan dan mengatasinya. Disitu saya
termotivasi untuk lebih semangat mengikuti olimpiade itu, dan kedepannya saya
belajar sendiri, dan memecahkan masalah soal-soal olimpiade sebelumnya.
SCAFFOLDINGS
Teori Vygotsky yang
lain adalah “scaffolding“.
Scaffolding merupakan suatu istilah pada proses yang digunakan orang dewasa
untuk menuntun anak-anak melalui Zone of proximal developmentnya.Scaffolding ialah perubahan tingkat
dukungan,memberikan kepada seseorang anak sejumlah besar bantuan selama tahap-tahap
awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan
kesempatan kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin
besar segera setelah ia mampu mengerjakan sendiri. Bantuan yang diberikan guru
dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan menguraikan masalah ke dalam bentuk
lain yang memungkinkan siswa dapat mandiri.
“Ketika
saya berumur 6 tahun , dan baru menjejaki SD, saya dulunya suka menggambar,
entah apa yang saya gambar saya tidak tahu, tapi tetap saya lakukan, di
dinding-dinding rumah, lantai, dimanapun itu. Dan suatu hari, saya
menggambar-gambar di kertas, lalu ibu saya menghampiri saya, dan mengajarkan
saya menggambar dengan baik, saya masih ingat waktu itu, gambaran ibu saya
bagus sekali, kala itu ibu saya menggambar pemandangan, dan saat itu juga saya
diajari olehnya, dan sekalian juga berkata, kalau saya menggambarnya di buku
gambar, tidak dimana-dimana, karena akan terlihat rapid an bagus, jika di buku
gambar. Di situlah saya, pertama kali di beri oleh ibu, buku gambar, yang
sangat besar, saya sengat senang kala itu, dan kedepannya, saya lebih giat
menggambar di buku gambar”
Rabu, 12 Maret 2014
PSIKOLOGI PENDIDIKAN
Psikologi adalah studi ilmiah tentang perilaku dan proses
mental kejiwaan. Dan Psikologi
Pendidikan adalah cabang ilmu yang
mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam
lingkungan pendidikan. Seperti yang kita ketahui psikolgogi pendidikan adalah
bidang yang sangat luas sehingga dibutuhkan satu buah buku tersendiri untuk
menjelaskannya.
Psikologi pendidikan merupakan sumbangsih dari ilmu
pengetahuan psikologi terhadap dunia pendidikan dalam kegiatan pendidikan
pembelajaran, pengembangan kurikulum, proses belajar mengajar, sistem evaluasi,
dan layanan konseling merupakan serta beberapa kegiatan utama dalam pendidikan
terhadap peserta didik, pendidik, orang tua, masyarakat dan pemerintah agar
tujuan pendidikan dapat tercapai secara sempurna dan tepat guna.
Bidang psikologi pendidikan didirikan oleh beberapa
perintis bidan psikologi sebelum awal abad ke-20 . Ada tiga perintis terkemuka
yang muncul di awal sejarah psikolgi pendidikan.
William James, dia
menegasan pentingnya mempeljari proses belajar dan mengajar di kelas guna
meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu rekomendasikannya adalah mulai
mengajar pada titikyang sedikit lebih tinggi di atas tingkat pengetahuan dan
pemahaman anak dengan tujuan untuk memperluas cakrawala pemikiran anak.
John Dewey, dewey percaya bahwa anak-anak akan belajar
dengan lebih baik jika mereka aktif. Dan juga dewey percaya bahwa anak-anak
seharusnya tidak hanya mendapatkan pelajaran akedemik saja, tetapi juga harus
diajari cara untuk berpikir dan beradaptasi dengan dunia di luar sekolah.
E.L.Thorndike, thorndike berpendapat bahwa salah satu
tugas pendidikan di sekolah yang penting adalah menanamkan keahlian penalaran
anak. Thorndike mengajukan gagasan bahwa psikologi pendidikan harus punya basis
ilmiah dan harus berfokus pada pengukuran.
CARA
MENGAJAR YANG EFEKTIF
Karena mengajar adalah hal yang kompleks
dan karena murid-murid itu bervariasi, maka tidak ada cara tunggal untuk
mengajar yang efektif untuk semua hal. Guru harus menguasai beragam perspektif
dan strategi, dan harus bisa mengaplkasikannya secara fleksibel. Hal ini
membutuhkan dua hal utama : 1)
pengetahuan dan keahlian professional, 2) komitmen dan motivasi.
Dan
berbagai cara dilakukan untuk membuat cara mengajar yang efektif, misalkan :
·
Strategi pengajaran
·
Penguasaan materi pelajaran
·
Keahlian manajemen kelas
·
Keahlian motivasional
·
Keahlian komnukasi
Seorang
wanita yang bernama Valeria Pang, mengatakan dia percaya, bahwa penting bagi guru
untuk menciptakan kelas yang penuh perhatian dan nyaman bagi murid. Vaelria
pang adalah professor di school of
teacher education of san diego.
Keahlian
teknologi
Teknologi itu
sendiri tidak selalu meningkatkan kemampuan belajar murid. Dibutukan syarat
atau kondisi lain untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung proses
belajar murid. Kondisi-kondisi antara lain : 1) visi dan dukungan dari tokoh
pendidikan, 2) guru yang menguasai teknlogi untuk pengajaran, 3) standard an isi
kurikulum, 4) penilaian efektivitas teknologi untuk pembelajaran. Guru yang
efektif mengembangkan keahlian teknologi dan mengintegrassikan computer ke
dalam proses belajar di kelas. Integrasi ini harus disesuaikan dengan kebutuhan
belajar murid, termasuk kebutuhan mempersiapkan murid untuk mencari pekerjaan
di masa depan, yang akan sangat mebutuhkan keahlian tknologi dan keahlian
berbasis computer. Guru yang efektif tahu cara menggunakan computer dan cara
mengajar murid untuk menggunakan computer untuk menulis dan berkreasi.
TECHNOLOGY
& EDUCATION
Teknologi bukan
hanya membantu anak-anak belajar secara lebih efektif di sekolah, tetapi
teknolog juga bisa mendekatkan seklah ke masyarakat.
Di
dalam dunia psikologi pendidikan, kita perlu tahu, berbagai macam isinya, yang
penting, perlunya komitmen dan motivasi dalam pembelajaran ini.
” Hotma Indra Hakim ”
Rabu, 26 Februari 2014
FIRST
Didalam tulisan pertama ini, saya Hotma Indra Hakim Harahap, pada pukul 17.27 RESMI BLOG INI DIBUAT! THANK YOU!
Langganan:
Postingan (Atom)




